Rabu, 13 Januari 2021

Prinsip Hidup Renaldy Pujiansyah

Satu hal yg saya pegang:

Jangan pernah meremehkan orang lain, sekalipun ia dalam keburukan.

Bagaimanapun kebaikan dan keburukan itu akan selalu bergandengan. 
Tak akan lepas. 
Seburuk-buruknya seseorang pasti ada setitik kebaikan dalam dirinya.

Jangan pernah meremehkan, bahkan pelacur sekalipun. 
Sebab, tanpa ia kita tak akan bisa makan nasi, menikmati sembako, dan membeli bahan bakar. Karena pelacur (walaupun tak semuanya) penghibur para supir saat membawa kiriman diperjalanan. Tanpa ia, mungkin tak akan ada barang-barang masuk kedalam daerah kita.

Semua hanya tentang bagaimana caranya memandang kehidupan.
Read More

Jalan-Jalan Itu Penting

Setidaknya pergilah ke suatu tempat yang belum pernah kamu datangi sebelumnya setahun sekali, begitu kata Dalai Lama.

Saya sendiri menyempatkan diri untuk pergi ke suatu tempat setidaknya seminggu sekali, tujuannya ya untuk refreshing. Biar otak tetep seger, bisa tetep kreatif dan menghasilkan ide-ide baru setiap hari.

Jalan-jalan tak perlu mahal-mahal, tak perlu jauh-jauh, tak perlu mewah-mewah, mulai saja dari yang terdekat dan sederhana. Saya sendiri lebih suka pergi menikmati alam; ciptaan Allah. Mulai dari laut, pantai, gunung, bukit, hingga matahari yang terbenam di ufuk barat.

Jalan-jalan tak melulu duniawi. Tergantung bagaimana kita meniatkan. Saat travelling, kita bisa merenungi sejarah, men-tadabur alam, dan mensyukuri nikmat. Kalau sudah begini, insya Allah travelling bukan lagi kegiatan yang sia-sia.

Jalan-jalan lah, agar kamu tidak menjadi orang yang 'kurang piknik'; yang terlalu serius dengan hidup.

Petualangan memang menyakitkan, tapi lebih sakit kalau hidup monoton.

Jadi, kapan kita jalan bareng??
Read More

Buat Kamu Yang Dikit-Dikit Baperan

Singgung-tersinggung itu udah biasa, pada dasarnya kehidupan memang tentang singgung-tersinggung.

Setiap penyataan, perlakuan, dll gak mungkin gak nimbulin ketersinggungan. 
Bahkan, sekarang ada orang yg lagi tersinggung sama tulisan ini.

Problemnya banyak banget sekarang orang yg gampang tersinggung, dikit-dikit tersinggung. Yaelah, piknik dong broh.

Terus gimana biar gak gampang tersinggung?
Perbaiki cara mengolah ketersinggungan dalam diri.

Lagi-lagi balik ke diri sendiri. Yang harus adaptasi itu kamu, bukan dunia.
Read More

Fokus Berkarya, Bodo Amat Dengan Orang Sirik

"Fokus aja ke orang yg ngedukung, bodo amat sama yg suka ngejatuhin."

Salah satu kalimat yg sering saya ucapin kalau lagi down. 
Terkadang, kita harus mempunyai seni untuk bersikap bodo amat. 
Karena se-ramah-ramah-nya kita pasti selalu ada yang marah-marah.

Orang-orang yang suka cari perhatian adalah orang-orang yang gak punya perhatian.
Orang-orang yang suka meremehkan kerja keras orang adalah orang-orang yang gak pernah merasakan kerja keras seujung lidah pun.
Orang-orang yang suka menghina karya orang adalah orang-orang yang gak punya karya.

Jadi, bodo amat lah. 
Gak usah ngurusin orang yang satu level dibawah kita. 
Gak ada waktu.
Read More

Manja Karena Label

Manja karena label.

Merasa punya label tinggi, kualitas diri gak diperbaiki. 
Terkesan hebat nyatanya mengecewakan.

Realita itu ngeri. Gak bisa ngandelin label cuy.
Orang-orang gak peduli UI mu, ITB mu, UB mu, atau BAPAK mu..

Kalau attitude baik, mindset baik, kualitas baik. Dunia pasti akan lebih baik juga. Orang-orang nyari dirimu, bukan labelmu.

Paham, sedotan kfc?
Read More

Sabtu, 29 September 2018

Meiliana


Ibu Meiliana, perempuan berusia 44 tahun itu divonis bersalah dan mendapat hukuman 18 bulan penjara atas kasus penodaan agama di Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara. Menurut saya pribadi, ini bukan merupakan sebuah kasus besar yang membutuhkan vonis hakim, melainkan kasus yang bisa diselesaikan cukup dengan berkomunikasi dan berdamai.

Ibu Meiliana divonis bersalah karena ia mengeluhkan suara azan dari toa masjid. Dari beberapa berita ada beberapa versi mengenai ibu Meiliana yang meminta suara toa masjid dikecilkan. Ada versi yang Meiliana meminta secara halus dan secara kasar. Namun sebenarnya ini hanya masalah komunikasi saja. Seandainya kita mampu berkomunikasi dengan baik, kunci komunikasi yang baik adalah mau berpendapat, mau mendengarkan dan mau menerima argumen dengan santai.

Pasal 156 KUHP tentang penistaan agama yang menjerat Meiliana bagi saya adalah pasal yang bertentangan dengan Undang-undang terutama mengenai Hak Asasi Manusia. Pasal tersebut bisa saya bilang adalah pasal karet; pasal yang tidak memiliki tolak ukur yang jelas. Bagaimana tidak, pasal tersebut bisa digunakan sembarangan oleh pribadi atau kelompok tertentu untuk menjerat orang lain dengan dalih agama. Kemudian yang lucunya setiap ada kasus yang terikat dengan pasal ini pasti selalu saja ada tekanan massa. Karena tekanan massa tersebut, hakim mau tidak mau harus menghukum korban .

Pada bulan Maret 2016, bahkan PBB sudah pernah mengusungkan pencabutan UU Penistaan Agama secara universal dengan alasan terlalu banyak makan korban, melanggar HAM, menutup kebebasan berpendapat, menekan kaum minoritas, dan sering dijadikan alat menjebak lawan politik. Entah kenapa keputusan ini berlarut larut tak selesai, padahal bagi saya ini adalah keputusan yang sangat tepat agar kita mampu menjalin keberagaman dengan baik kemudian hidup bersama tanpa adanya konflik horizontal dan saling curiga.

Saya beragama Muslim namun saya tidak setuju dengan dihukumnya Meiliana. Ketika dibilang kalau Meiliana mengeluhkan Adzan. Namun dari pandangan saya, itu adalah sebuah kesalahpahaman, yang dikeluhkan Meiliana adalah volume pengeras suara di masjid bukan adzannya. Adzan dan pengeras suara adalah dua hal yang berbeda. Adzan dilakukan sebagai panggilan untuk beribadah, tentunya bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, dulu saat belum ada pengeras suara, panggilan ibadah dilakukan dengan memukul bedug atau kentongan.

Mengenai pengeras suara di masjid, memang berpotensi untuk mengganggu kehidupan sosial, terutama di Indonesia yang penuh dengan keberagaman ini. Apalagi jika pengeras suara tersebut disalahgunakan, yang seharusnya digunakan hanya untuk adzan namun digunakan untuk kepentingan lain. Maka dari itu, pemerintah sebenarnya sudah mengatur tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musolla melalui Intstruksi Dirjen Bimas Islam Nomer KEP/D/101/78 dari Dirjen Biman Islam Kementrian Agama. Dalam intruksi tersebut ada aturan mengenai bagaimana seharusnya pengeras suara digunakan oleh masjid dan musolla yang intinya diatur untuk memperhatikan ketenangan masyarakat. Adapun aturan mengenai tidak mengumandangkan adzan terlalu keras di daerah padat penduduk. Karena biasanya jarak masjid satu dengan yang lainnya hanya berjarak 500 meter.

Mengenai pengeras suara di masjid, bahkan di Negara Islam seperti Arab Saudi pemerintahnya mengatur bahwa speaker eksternal di masjid hanya boleh digunakan saat panggilan adzan untuk solat lima waktu, solat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, dan saat solat meminta hujan. Perintah tersebut dikeluarkan oleh Kementrian Urusan Agama Islam di Saudi sejak tahun 2015. Sayangnya, masyarakat kita masih belum melek mengenai aturan-aturan yang berlaku. kebanyakan masyarakat masih menggunakan norma kebiasaan yang diturunkan secara turun-temurun.

Setelah Meiliana dihukum, muncul banyak dukungan dan petisi untuk membebaskan Meiliana. Saya tidak sendiri yang mendukung Meiliana. Karena memang sebenarnya Meiliana dihukum karena tekanan massa yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu akar permasalahannya, hanya ikut-ikutan saja menekan hakim yang diikuti dengan amarah yang tinggi.

Maka dari itu, menurut saya Indonesia sedang darurat toleransi antar agama. Karena kita di Indonesia tidak hanya satu agama, Indonesia mengakui enam agama yang ada di Negara ini. Maka sangat diperlukan sekali pelajaran toleransi antar agama sejak dini. Itulah pentingnya kita untuk saling menyelami kehidupan bersama. Sudah seharusnya kita berkomunikasi secara dua arah. Agar tidak selalu muncul perasaan saling curiga dan kesalahpahaman. Agar jika ada pihak yang terganggu atau tersinggung bisa diselesaikan dengan mengedepankan prinsip toleransi tanpa harus hukum menghukum. Karena pada dasarnya kita semua sama, sama-sama manusia. Mulailah memanusiakan manusia, memandang manusia sebagai manusia bukan dari suku, ras, agama, atau latar belakangnya. Saya harap tidak ada lagi korban yang tertimpa kasus yang menyangkut SARA. Semoga tidak ada Meiliana atau Ahok yang selanjutnya.

Read More

Jumat, 02 Februari 2018

Belajar kepemimpinan dari tokoh-tokoh dunia

Ada beberapa tokoh yang sangat saya sukai dan menjadi inspirasi saya. Mulai dari manusia multitalenta seperti Raditya Dika hingga penyanyi wanita pertama dalam sejarah Billboard Hot 100 yang tiga singelnya berhasil masuk top 10 secara bersamaan, Adele.

Namun, ada tokoh yang saya sangat suka dengan kisahnya. Seorang pengacara dari India yang pernah memimpin perjuangan kesetaraan hak di Afrika Selatan, kemudian kembali ke India untuk melawan penjajah Inggris, dunia mengenalnya dengan Gandhi. Kemudian, seseorang yang juga memperjuangkan hak kesetaraan di Afrika Selatan, yang kelak menjadi presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Lalu, seorang penerima Nobel, pendeta Baptis, dan aktivis HAM warga Afrika-Amerika.

Mereka semua memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menjadi pemimpin perjuangan. Namun, setelah saya baca kisah mereka, ada hal unik dalam kepemimpinan mereka yang sangat relevan hingga saat ini. Baik dalam memimpin keluarga, perusahaan, organisasi dll.

Mahatma Gandhi, kita semua mengenalnya sebagai penganut antikekerasan. Meski tidak dikenal sebagai pencetus prinsip antikekerasan, beliau sering disebut sebagai pelopor prinsip ini di masyarakat. Tindakan Gandhi itu menginspirasi banyak pemimpin dunia dan pemimpin gerakan politik. Pemimpin pejuang hak asasi manusia di Amerika Serikat, Martin Luther King, terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Gandhi dalam hal penerapan gerakan antikekerasan. Aktivis antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, juga terinspirasi oleh Gandhi.

Dari kisah Gandhi, saya belajar bahwa kepemimpinan itu menciptakan pemimpin dengan cara menginspirasi calon pemimpin untuk melakukan hal yang sama, sehingga bisa berdampak besar bagi masyarakat. Tentunya, semua itu hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Nelson Mandela, memberikan pelajaran dari sisi lain. Setelah dipenjara rezim kulit putih selama 27 tahun, sangat wajar jika Nelson Mandela membenci orang-orang kulit putih dan melakukan balas dendam kepada mereka. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Nelson berusaha mendorong percepatan rekonsiliasi di negaranya. Bagaimana bisa dia melupakan semua kejahatan, tidak ada rasa benci, dan kemudian malah mendorong revolusi secara damai?

Nelson mengambil jalan uniknya sendiri. Dari kisah tersebut, saya belajar bahwa kepemimpinan adalah sebuah seni memilih untuk mengalahkan diri sendiri, melupakan masa lalu yang suram, kemudian mengarahkan pikiran untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Pada hari pelepasan Nelson Mandela dari penjara tahun 1990 ketika ia berumur 71 tahun. Ketika berpidato kepada bangsanya, Mandela menggerakkan jutaan orang untuk membuat suatu perubahan yang akan menjadi inspirasi bagi dunia. Sosok, kepemimpinan, dan tindakan Mandela menghentak dunia.

Martin Luther King, King memimpin dan mengubah dunia dengan the power of vision, the power of inspirations, dan the power of dream. Dalam pidatonya yang sangat terkenal, Martin Luther King berkata,

“I say to you today, my friends, that in spite of the difficulties and frustrations of the moment, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream. I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: "We hold these truths to be self-evident: that all men are created equal." I have a dream that one day on the red hills of Georgia the sons of former slaves and the sons of former slaveowners will be able to sit down together at a table of brotherhood. I have a dream that one day even the state of Mississippi, a desert state, sweltering with the heat of injustice and oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice. I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.”


Dari Martin Luther King, saya belajar bahwa kepemimpinan itu bisa menggunakan pengalaman pribadi yang sangat sesuai dengan masyarakat untuk menyentuh atau menjangkau hati dan pikiran orang lain.

Gandhi, Mandela, dan King, mereka mengubah dunia dengan gaya kepemimpinannya masing-masing. Dari mereka saya belajar bahwa kepemimpinan itu berdasarkan inspirasi bukan dominasi. Bahwa kepemimpinan itu berdasarkan kooperasi bukan intimidasi.
                                                                                               
Read More