Minggu, 08 Oktober 2017

Pentingnya humor

Akhir-akhir ini ketika aku berselancar di social media, selalu ada saja perdebatan-perdebatan yang tidak perlu oleh orang-orang yang kurang piknik. Lucunya, perdebatan itu kelihatan gak berujung, keduanya saling merasa benar tanpa mencari kebenaran. Malah ujung-ujungnya darah tinggi kambuh, beli obat, yaah duit lagi. Debat bukannya ngehasilin duit malah ngeluarin duit, buang-buang waktu dan bikin capek pikiran aja. Pffftt...

Perdebatan didunia digital memang sudah sering kita lihat, sampe capek. Jika kita melihat beberapa tahun terakhir, ada peristiwa Twitwar yang berujung adu fisik.


Emosi memang tak bisa lepas dari manusia manapun. Beberapa bulan yang lalu ada sekumpulan manusia pintar yang sedang rapat kemudian terpancing emosi dan disusul ricuh. Aku kira hanya orang-orang yang berpikiran pendek saja yang bisa diserang emosi, ternyata sekelas DPD pun bisa emosi. Atau ternyata DPD termasuk orang yang berpikiran pendek? Hmm..


Beberapa hari yang lalu, di deket rumah aku ada anak dan bapak berantem cuma gara-gara anaknya nutup pintu kekencengan pas magrib. Gila gak tuh? Ini serius :)) Aku aja heran...

Banyak banget hal-hal yang seharusnya mudah untuk diselesaikan, namun emosi memang selalu mengalahkan logika. 

Andai saja kita menggunakan humor untuk menyelesaikan masalah, alangkah banyaknya pilihan kita untuk menyelesaikan sebuah masalah. Sebab emosi itu gak baik, emosi dapat menimbulkan kekerasan. Gak ada juga tuh hadiah Nobel untuk kekerasan, yang ada hadiah Nobel untuk perdamaian.

Humor itu penting, namun ketika kita menggunakan humor selalu ada saja orang-orang yang gak punya selera humor dan sok serius. Aku sendiri lebih suka menyelesaikan sesuatu dengan humor, karena humor bikin suasana santai, dan kalo suasana santai berpikir jadi enak, lancar, dan tenang. Selain itu, dengan humor kita tidak perlu berat menerima kekalahan.

Bahkan sangking sukanya aku dengan humor, ada hal-hal yang sebenarnya itu biasa aja, malah aku ketawain. Kalo anak millennials bilang jokes receh. Entahlah, ini pertanda sense of humor aku yang tinggi atau sense of humor yang jeblok.

Humor juga sangat baik bagi kesehatan tubuh kita. Saat kita tertawa lepas, saat itu juga kita merasakan betapa bahagia dan menyenangkannya hidup. Bayangin aja kalo gak ada humor. Hidup pasti terasa sepi, hampa, dan tertekan. Malah bikin orang jadi gila dan setres.

Memang, sampai sekarang belum ada pelawak yang mendapat hadiah Nobel. Namun setidaknya dengan humor kita bisa berkumpul bersama. Humor tidak memandang golongan, aliran, suku, dan ras tertentu. Ketika ada humor maka tidak ada perbedaan. Kita semua tertawa di satu tempat yang sama.

Seperti kata Warkop DKI.
 "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang"



Read More

Jumat, 22 September 2017

Bodoh dan Kotak

 “I choose a lazy person to do a hard job. Because a lazy person will find an easy way to do it.” ― Bill Gates

***

Aku selalu suka dengan orang bodoh, bukan berarti aku meremehkan kemampuan seseorang. Bodoh disini dalam artian adalah orang itu menganggap dirinya bodoh. Karena tidak ada orang bodoh, yang ada hanyalah malas. Malas mencari tahu, dan malas bergerak dari zona nyaman.

Seperti kata Steve Jobs "stay foolish and stay hungry"

Analogikan otak itu seperti perut, jika perut lapar kita akan mencari makanan agar bisa kenyang. Kalau lapar terus? ya makan terus. Nah, kenapa kita harus selalu merasa bodoh? agar kita mau mencari ilmu pengetahuan dan informasi-informasi untuk mengenyangkan otak kita. Bagi aku, ada ada tiga rongga dalam tubuh manusia yang harus kita isi. Rongga kepala, rongga dada, dan rongga perut. Rongga kepala kita isi dengan ilmu pengetahuan, rongga dada kita isi dengan oksigen, dan rongga perut kita isi dengan makanan bergizi. Sebagai manusia yang masih hidup sangat wajib hukumnya mengisi ketiga rongga tersebut, jika salah satu rongga kosong artinya kita mati.

Disini aku gak membahas organ-organ tubuh, biarkan anak kedoktran yang membahas itu.
Disini aku akan membahas kenapa orang-orang seperti ini bisa sangat menarik.

Jadi, aku punya temen, aku manggil dia 'jancuk';kata kasar dalam bahasa jawa. Bagi aku pertemanan sejati adalah ketika kita mampu saling terbuka dan saling olok-olokan tanpa ada rasa dendam.
Balik lagi, si jancuk ini males banget, udah kayak pepatah 'mati segan hidup tak mau'. Asli males banget dah, kayak mayat hidup gitu. Aku suka iseng ngasih dia pertanyaan-pertanyaan gitu.
"Cuk! Gimana ya cara ngukur gedung pencakar langit?"
Sebelum melihat jawaban temen aku yang males, aku akan ngasih jawaban versi orang pintar dulu. Orang-orang pintar pasti jawab begini.
"Ambil barometer, lalu tinggal bandingkan tekanan udara di dasar gedung dan di puncak gedung, masukkan rumus sedikit dan dihitung perbedaan tinggi dari perbedaan tekanan pada kedua titik ketinggian itu."
Sangat cerdas bukan ketika kita melihat seseorang menjawab dengan teori seperti itu?

Lalu bagaimana jawaban temen aku yang bodoh dan malas itu? ada yang bisa nebak? jawabannya begini.
"Yaudah kamu ambil tali, terus jatuhin tali itu dari atas gedung, dah ukur dah berapa tuh" katanya sambil jepitin jenggotnya pakai koin maratusan.
Seperti biasa, anak ini selalu ngasih jawaban yang bikin aku kaget.

Balik lagi ke pertanyaan awal, orang seperti jancuk ini menarik, bahkan seorang Bill Gates saja menyukai orang-orang yang seperti ini untuk memecahkan sebuah masalah.
Sederhananya gini, orang yg seperti jancuk ini orang yang mau mendengar ketika diberi arahan dan mau diajarin. Tentunya memberi arahan yang baik, bukan arahan untuk memanfaatkan ketidaktahuan orang tersebut untuk kepentingan diri sendiri.
Menurut aku, ribet banget kalau kita kerja bareng orang yang berpikir bahwa dia tahu segalanya. Aku lebih suka bekerja sama orang yang ingin belajar dan berkembang bersama. Aku sendiri seneng berbagi ide baru dan belajar sama orang yang punya semangat untuk belajar.

Orang-orang seperti jancuk ini sebenernya pinter, cuman dia gak tau metode belajar yg baik untuk dia itu bagaimana. Ketika ada kita sebagai orang yang membagikan ilmu, dia bagus kok nanggepinnya dan malah bisa langsung dipraktekkin. Biasanya orang-orang begini gak suka dengan keterikatan, orang-orang begini adalah orang-orang yang merdeka; bebas bersikap, bertindak, dan berpikir. Makanya dia lebih tanggap ketika belajar di lingkungan sosial, dan sebaliknya kurang tanggap ketika belajar di institusi pendidikan.

Aku sendiri juga lebih suka belajar di lingkungan sosial, karena menurut aku kurikulum pendidikan di Indonesia itu mematikan kreatifitas dan mematikan semangat belajar. Bayangin aja sekolah dari pagi lalu pulang saat senja. Pergi sekolah bareng karyawan, pulang juga bareng karyawan. Tidak ada waktu sama sekali untuk mengembangkan bakat dan passion. Sebenernya belajar itu sederhana, tak perlu lama-lama. Kunci belajar adalah mengerti konsep dan mampu mengaplikasikan konsep tersebut. Aku berharap hal ini bisa dibenahi nantinya, karena pendidikan itu salah satu instrumen penting untuk mendorong sebuah negara.

Orang-orang pintar justru lebih suka memperumit suatu masalah sepele daripada mencari cara pemecahan yang mudah dan sederhana. Sedangkan orang-orang kayak si jancuk ini adalah orang-orang yang gak suka ribet-ribet selalu mencari jalan pintas. Makanya Bill Gates menyukai orang-orang kayak si jancuk ini untuk memecahkan masalah dan melakukan pekerjaan.

Istilah pemikiran orang-orang kayak si jancuk ini adalah berpikir keluar kotak, memang selain diwajibkan untuk berpikir kritis dan logis sebagai manusia kita juga diwajibkan berpikir keluar kotak. Saat kapankah kita harus berpikir keluar kotak? Saat kotak sudah tidak memberikan solusi.
Read More

Kamis, 30 Maret 2017

Senjaku rindu

Hari ini, kotaku seperti biasanya
Panasnya yang terik
Burung-burung bernyanyi
Kupu dan capung beterbangan
Dan aku seperti biasanya
tetap sayang kamu

Namun, sayang...
Tanpa kata
Tanpa nada
Rintik hujan pun turun di sore hari;
menjelang senja
Langit berkabut abu
Jingga senjaku terlihat memudar

Terkadang sayang, hujan membuat rinduku kian terikat
dan kini rinduku merengek lagi
Senjaku tanpamu; hanya siluet jingga yang tak bermakna

Di senja yang hujan ini, aku tak butuh payung
Aku hanya butuh pelukanmu
Aku tau, pelukan lewat mimpi itu cukup menghangatkan
Namun sayang, ketika rindu menyesaki ingatan
Kau harus datang
Kau harus memberi pelukan
serta kecupan hangat
Sehangat knalpot ninja 
yang habis dipakai ngebut

Hehe, maaf sayang...
Terkadang rindu membuatku sedikit gila
Sayang, kutitipkan rindu ini
kepada semesta
Bersama ufuk senja, dan doa
Read More

Kamis, 09 Maret 2017

Perempuan Berambut Gelombang

Kulihat kau di persimpangan lorong
Rambut gelombang di atas bahu yang diselendangkan
sehingga terlihat daun-daun telinga
Sepasang mata syahdu itu
layaknya hutan belantara
dan aku tersesat dalam teduhnya kelopakmu

Kau tertawa
aduhai... begitu renyah dan bening
Kau berjalan
seolah melayang, ringan sekali
gerakan itu dan melambai
Bahkan saat kau marah saja
kau tetap terlihat elok

Sejenak aku terlena oleh dirimu
senyumku kini kembali
Dahulu, kerap kucari
namun nihil
Tetes cahaya baru saja hidup
Di ufuk patahnya hati
Mungkinkah dikau?

Perempuan berambut gelombang
Mari bersamaku
Read More

Minggu, 05 Maret 2017

Tidurlah, cantik

Tidurlah, cantik.
Ini puisiku untukmu
Untukmu
Untuk mengantarkan tidur malammu
Rebahlah

Tidurlah, cantik.

Sudahi semua keluh kesahmu
Biarlah menguap bersama rasa kantuk itu
Hanyutlah dalam tidurmu
Kukirimkan bismika untukmu

Tidurlah, cantik.

Sudahlah jangan menangis
Biar kukecup keningmu; yang lembut
Jangan takut
Ku akan selalu ada menemanimu

Tidurlah, cantik.

Pejamkanlah matamu
Malam sudah terlalu larut
Tak baik untuk wanita se-ayu dirimu
Tidurlah, mimpilah, nyenyaklah.

Read More

Rabu, 01 Maret 2017

Sisa Hujan Semalam

Sisa hujan semalam masih menempel di daun jendela, sementara langit terlihat begitu muram.

Akhir-akhir ini, di kotaku langit kerap bermuram durja. Kemudian menangis, dengan bunyi rintik syahdu yang sesekali menyebut namamu.
Akhir-akhir ini, aku kerap menggigil. Aku telah kuyup diguyur rindu padamu. Gigil dan rindu.

Ahh..... Nampaknya candumu melekat begitu hebat di pikiranku.
Read More